HaiHola!!!!!
Di siang bolong yang cerah. Langitnya biru, awannya putih, mataharinya kuning. Nyettt watta hellll. Ngomong apa sih.
Oke, jadi ceritanya mau ngenalin kalian dengan salah satu hobi saya yaitu (sok)Nulis wkwkwk. Buat para gadis ketjeh dan cowok ganteng di luar sana yang tiap hari ngeSOCMED-an, ngeYOUTUBE-an, ngeGOOGLE-an, ngeBLOG-an, dan banyak nge----an lainnya, biar makin ketjeh ayok disempatin mampir ke link berikut ini --->>> www.wattpad.com/asarong !!!!
Baca ceritanya, dijamin menghibur *padahalenggak* uppss hahaha
Pokoknya kalau lagi nggak ada kerjaan, jangan sampai nggak buka ya.
Let's meet on my stories guys! Tengkisss..
Hello there! This blog is dedicated to a girl with some crazy imagination. lol Sempatin baca ceritanya yak! Thank yaaaa
Rabu, 22 Juni 2016
Jalan
kita berseberangan,
Namun
tak saling
bersinggungan
|
J
|
am sudah menunjukkan
pukul 6.30 tepat. Lagi – lagi
Aluna terlambat bangun, padahal ini hari pertamanya sebagai siswi putih biru. “Aduh, udah jam segini. Bisa telat nih” Keluh
Aluna.
Dengan
langkah seribu Aluna menyambar handuk
yang tergantung di belakang daun pintu kamar tidurnya.
“Suasana sekolah baru benar-benar
berbeda dengan sekolah lama. Semangat.” Seru Aluna seraya menyusuri koridor
sekolah barunya. Tak jauh dari tempatnya, Elena tengah sibuk berddebat dengan
Alex.
“Hoihoihoi. Pagi-pagi udah gosipin orang aja” Sambar Aluna. “Yaoloh
neng, siapa juga yang gosipin orang. Ini lagi nyari kelas kita yang mana, dari
tadi ngga ketemu-ketemu.” Tukas Elena. “Iya nih. Betul ngga sih ini kelas kita.
Kok ngga ada teman kita satupun ya di dalam.” Seru Alex seraya mengintip kelas
di depannya.
“Kok bisa ngga ada sih. Apa
jangan-jangan kelasnya dipindahin kali ya?” Seru Aluna kemudian.
Mereka bertiga terus menyusuri koridor
bagaikan orang yang tanpa arah dan tujuan. Tiba-tiba, “Eh, itu bukannya suara
Aleandra.” Seru Alex menghentikan langkahnya. Kemudian disusul Alena dan Elena di
belakangnya.” Iya, benar.” sahut Aluna. ”Mana?Aku ngga dengar apa-apa.” Sahut
Eleana dengan tampang bingung.
Seperti tak mendengar apa yang baru
saja dikatakan Elena, Alex dan Aluna melesat ke sebuah kelas yang berada kedua
dari ujung koridor tempat mereka berdiri. Benar saja, di dalam ruangan kelas
tersebut teman-teman mereka tengah mendengar beberapa penyampaian wali kelas.
Tanpa ragu Alex mengetuk pintu dan menampakkan tampang anehnya. Serentak
teman-teman mengalihkan pandangannya ke arah mereka bertiga.
“Mau gantiin patung pancoran ya
kalian.” Seru salah satu siswa pada mereka. “Eh, maaf” balas Alex sembari
melangkah masuk disusul Aluna dan Elena yang sedari tadi mengekorinya.
Hari pertama di sekolah baru terasa
singkat bagi Aluna. Tahu-tahu saja ia sudah terlelap di tempat tidurnya.
Jingga sudah hampir penuh menguasai
langit ketika Aluna terbangun. ”Huaaaa” Aluna mengusir kantuk dari matanya.
Tak tahu harus berbuat apa, Alunapun
menyalakan Laptopnya dan langsung beradu dengan kursor di hadapannya. Seperti
biasa Aluna selalu membuka akun miliknya dan mulai berutak-atik dengan
tuts-tuts laptopnya. Mata Aluna membelalak seketika melihat sebuah nama yang
sudah tak asing lagi muncul menghiasi berandanya. Tanpa disadari, ada semburat
senyum yang terlukis di wajah indah Aluna. Tak salah lagi, itu adalah akun
Nino. Meski hanya sepenggal kalimat yang bahkan tak ditujukan untuk dirinya,
itu bukanlah masalah asal Aluna bisa selalu tahu apa yang sedang dialami Nino.
Tanpa ia sadari waktu berlalu begitu cepat saat ia melihat jarum jam yang sudah
menunjuk pukul 11 malam. “Udah jam segini, besok bisa telat bangun nih”
Gumamnya. Ia kemudian mematikan laptopnya, terduduk diam di tempat tidurnya
memandangi poster tampan idolanya sebelum akhirnya terlelap tidur.
Suasana masih sunyi ketika Aluna
menyusuri koridor sekolahnya, mencari-cari sosok sang pujaannya. Tanpa diduga,
ternyata yang dicarinya tengah berjalan ke arahnya. Semua berlalu layaknya
adegan dalam film-film, begitu cepat sampai-sampai Aluna baru sadar ketika Nino
sudah tepat di sebelahnya. “Matilah aku” Gumamnya pelan. Aluna berusaha
mengontrol detak jantungnya yang kini bagaikan mobil balap yang tengah berpacu
di lintasan. Begitu cepat, membuatnya semakin mempercepat langkah menuju
kelasnya.”Untunglah” Serunya seraya mengusap dadanya
perlahan.”Wah,wah,wah.Masih pagi udah ngos-ngosan. Habis lomba lari sama siapa
kamu?” Ejek Alex. ”Siapa yang lomba lari. Sok tahu” Tukas Aluna.
“Kalian tuh ya, masih pagi udah ribut
aja” Seru Elena.“Alex tuh yang mulai” balas Aluna.”Apaan sih? Sayakan cuma
pengen nanya” sahut Alex berusaha membela diri.
“Kalian berdua tuh ya. Udah duduk sana,
bentar lagi guru masuk tahu” Kata Elena akhirnya.”Iya deh” seru Alex melangkah
ke tempat duduknya.
Seperti hari-hari yang lain, hari itu
berjalan begitu singkat. Bagaikan sedang menonton tayangan film dokumenter yang
sigkat. Kurang lebih begitulah kehidupan Aluna sebagai siswi SMP.
Hari-hari yang iya laluipun semakin
menumbuhkan benih-benih dihatinya. Tiada seharipun ia tidak memandangi si
pencuri hatinya kala di sekolah.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa
tahun ajaran pertama akan segera berakhir. Itu menandakan sebentar lagi Nino
akan segera mengikuti ujian akhirnya sebagai siswa SMP.
“Sedang apa kamu disini?” Sapa
Aleandra. “Eh, itu anu. Cuma duduk-duduk saja kok.” Jawab Aluna asal. “Duduk
saja memandangi Nino, iya kan?” Goda Aleandra. “Ah, nggalah. Aku sedang
mengamati lingkungan sekolah kita kok.” Balas Aluna mencoba mengalihkan
pembicaraan. “Mulai deh ngelesnya” Sahut Aleandra. “Apaan sih. Serius ngga kok”
Tukas Aluna.
“Eh, tunggu sebentar. Cewek yang
sampingan sama Nino itu siapa?” Seru Aleandra. “Oh itu, namanya Aluka. Teman
sekelas Nino” Jawab Aluna.
“Lihat tuh, mereka kayaknya akrab
banget ya.” Seru Aleandra menimpali. “Itu wajar lagi. Diakan merangkap pacarnya
Nino juga.” Balas Aluna setengah menggerutu.
“Waduh. Ada yang patah hati nih” Sindir
Aleandra. “Sudah ah. Aku mau ke kantin, mau ikut nggak?” Sahut Aluna kesal
sembari meninggalkan Aleandra yang masih duduk melongo.
“Mau banget. Perutku udah keroncongan
nih dari tadi” Balas Aleandra menyusul Aluna yang lebih dulu pergi.
Seperti biasa, kantin selalu penuh
sesak. Terutama pada waktu istirahat. Aluna dan Aleandra harus
berdesak-desakkan dengan siswa lain untuk bisa membeli yang mereka perlukan.
Tak seperti kantin, kelas mereka sangat
tenang dan damai. Hanya ada beberapa anak yang tengah asyik bercerita.
Hari itu proses belajar mengajar terasa
jauh lebih lama dari biasanya. Membosankan, sampai-sampai banyak yang
mengantuk. Namun diakhir pelajaran diumumkan bahwa siswa kelas tujuh dan
delapan diliburkan karena kakak kelas kami kelas sembilan akan mengikuti Ujian
Nasional selama tiga hari. Bak meriam besar yang ditembakkan, suasana yang
tadinya hampir seperti kamar mayat, tiba-tiba riuh seketika itu juga.
“Hore. Senangnya akhirnya kita libur
juga.” Seru Alex dengan tampang penuh kemenangan. “Iya nih. Aku bakal bisa
menyelesaikan filmku yang masih numpuk” Seru Elena menimpali. “Aku mau tidur
sepanjang hari. Pasti enak tuh.” Sahut Aleandra. “Kalau aku ngapain ya. Hmm.” Sahut
Aluna setengah berpikir.
“Kalau kamu sudah pastilah, melototin
laptopmu sepanjang hari.” Ejek Elena. “Sok tahu deh” Tukas Aluna.
“Udahan tuh debatnya, mending kita
pulang dulu aja.” Seru Alex setengah berteriak dari arah pintu. “Eh iya, pulang
yuk” Jawab Aluna asal.
Rumah Aluna tampak masih sepi, kedua orang
tuanya belum pulang kerja.
Aluna menghempaskan tubuhnya ke sofa
ruang tamu. Berusaha menghapus pikiran tentang Nino yang terus mengakar di
kepalanya. “Sia-sia dong usahaku selama ini. Sebentar lagi Nino lulus, itu
artinya dia bakal sekolah di tempat yang baru juga. Aduh.” Serunya pada diri
sendiri.
Aluna masih sibuk memikirkan Nino
ketika terdengar suara ketukan seseorang.
Ternyata yang muncul dari balik pintu
adalah Niko, teman masa kecil Aluna. “Ada apa?” Tanya Aluna. “Ini, ada titipan
dari ibuku.” Balasnya memberikan sebuah amplop. “Oh. Makasih.” Ucapnya menerima
amplop tersebut.
Tanpa banyak basa basi lagi, Niko
berlalu pergi. Meninggalkan Aluna seorang diri. “Dasar aneh.” Gumamnya pelan.
Kembali ia terduduk di sofa, masih
dengan topik yang sama ‘Nino’. Aluna berusaha keras untuk tidak memikirkan pria
itu. Tapi bukannya berhasil ia malah semakin tak bisa melupakan sosok Nino yang
tak lama lagi akan lulus dari sekolahnya. Tanpa sadar Aluna tertidur hingga
malam hampir larut. Ia baru sadar ketika ibunya pulang dan menyuruhnya tidur di
kamarnya.
Dengan langkah ogah-ogahan Aluna menuju
kamarnya dan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.
Hari libur pertama yang dilalui Aluna
sangat membosankan. Dalam seharian itu, hampir berulang kali sudah Aluna
mengutak-atik laptopnya. Membuka akunnya untuk sekedar menunggu sebuah nama
muncul di berandanya. Namun, yang ditunggu malah tak muncul sekalipun. Jarum
jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika Aluna memutuskan untuk tidur.
Hal yang sama terjadi sampai hari
terakhir liburan. “Hah. Dia kemana sih? Menyebalkan.” Gerutunya untuk kesekian
kalinya.
Embun pagi masih menyelimuti bumi
ketika Aluna berangkat ke sekolah. Dengan raut wajah cemberut ia menyusuri
koridor sekolah menuju kelasnya. Sehari berlalu tanpa ada hal yang bisa
mengembalikan semangat Aluna. Terlebih karena kelas 9 sudah tidak masuk sekolah
lagi.
Hari perlahan demi perlahan berganti,
tiba saat pengumuman kelulusan. Nino akhirnya resmi menanggalkan baju putih
birunya. Ia bukan lagi siswa SMP, ia akan segera menjadi siswa SMA. Itu
artinya, tak ada lagi harapan bagi Aluna untuk bisa bersama dengan Nino.
Aluna yang dulunya periang, perlahan
berubah menjadi pribadi yang cenderung menutup diri.
Menjelang kenaikan kelas, semua
teman-teman Aluna sibuk memikirkan tempat liburan yang akan mereka kunjungi
saat libur nanti. Hanya Aluna saja yang tidak ikut andil dalam musyawarah
tersebut. Ia lebih memilih diam dan mendengar perdebatan teman-temannya.
Hari yang dinanti akhirnya tiba juga,
libur panjang sudah di depan mata. Semua siswa tampak sangat gembira.
Tak disangka hari terakhir sekolah
merupakan hari bahagia bagi sahabat Aluna. Aleandra resmi menjalin hubungan
dengan Alex. Elenapun mulai sibuk mengurus keperluan untuk liburannya. Berbeda
dengan Aluna yang lebih memilih berlibur di rumah saja. “Kamu yakin ngga mau
ikut?” Tanya Elena. “Iya. Kan lebih seru tuh kalo kamu juga ikutan.” Timpal
Aleandra. “Ngga, makasih. Aku mau di rumah saja.” Balas Aluna lesuh. “Baiklah
kalau memang itu keinginanmu. Kami akan membawakanmu oleh-oleh saat pulang
nanti.” Seru Alex. “Semoga kalian bersenang-senang. Kalau begitu aku duluan
yah” Kata Aluna menyudahi.
Seminggu sudah liburan dilalui Aluna
tanpa kesan yang berarti. Hingga suatu hari ia diundang ke sebuah pesta ulang
tahun teman kelasnya. Di sana ia bertemu dengan Niko. Cowok yang selalu
dianggapnya aneh itu. Tanpa diduga, Niko menyatakan perasaannya pada Aluna.
Aluna yang mendengar hal itu sangat
terkejut dan tak mampu berkata apa-apa. Hal yang paling tak terduga
selanjutnya, Aluna menerima Niko.
Sejak saat itu, Aluna mulai bisa
melupakan sosok Nino. Ia kini telah bahagia bersama Niko.
Meskipun kisahnya tak sesuai yang ia
harapkan, namun satu hal yang ia sadari. Semua yang ia alami membawanya pada
suatu titik yang sangat indah. Ketika ia telah mendapatkan orang yang bisa
membuatnya bahagia.
~ THE END ~
Langganan:
Postingan (Atom)